Siklus Batuan – Batuan merupakan salah satu material yang mudah ditemukan di bumi. Rasanya sejauh mata memandang pasti melihat batu di mana-mana. Namun keberadaannya bukan berarti muncul begitu saja dari dalam tanah.

Ada proses yang harus dilewati hingga menjadi sebuah batu. Proses ini lah yang dinamakan siklus batuan, yaitu serangkaian proses yang menggambarkan perubahan magma menjadi beku karena faktor cuaca.

Siklus batuan, disebut juga dengan rock cycle, memiliki durasi proses yang beragam sehingga menghasilkan jenis batuan yang bermacam-macam. Berdasarkan proses terbentuknya, batuan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.

Ketiga kelompok batuan tersebut memiliki cirinya masing-masing. Seseorang yang ahli dibidang Petrologi akan dengan mudah mengetahui perbedaan ketiganya. Karena Petrologi adalah sebuah studi khusus untuk mempelajari tentang batuan dan kondisi pembentukannya.

Baca juga: lapisan kulit


Siklus Batuan dan Proses Terjadinya

Siklus Batuan

Secara sederhana, siklus batuan dimulai dari magma yang keluar akibat gunung meletus. Cairan yang sangat panas ini berasal dari dalam perut bumi dan membawa beberapa mineral, termasuk batuan. Namun jika ingin mengetahui lebih detail, berikut adalah tahapan terjadinya batuan yang mengalami proses pengkristalan magma:

1. Pembentukan Magma

Magma tidak dibentuk dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk membentuk magma karena letaknya di kerak bumi. Diperkirakan posisinya berada pada 200 m di bawah permukaan bumi. Adapun magma tidak terbentuk di semua wilayah kerak bumi, hanya ditempat-tempat tertentu yang memiliki suhu, tekanan, air, dan faktor tertentu lainnya. Makannya tempat-tempat yang memproduksi magma dinamakan kamar magma.

Salah satu cara pembentukan magma yang umum diketahui adalah karena benturan dua lempeng litosfer, kemudian salah satu lempengannya menghujam dan menyusup ke astenosfer. Akibat dari gesekan kedua lempeng menghasilkan peningkatan suhu dan tekanan. Ditambah adanya air dan mineral asam mendorong terjadi proses peleburan sehingga tercipta lah magma.

2. Erupsi Magma

Batuan pada magma yang masih terkadung dalam perut bumi belum mengalami siklus batuan apapun. Begitu magma keluar dari perut bumi baru lah siklus tersebut dimulai. Adapun cara-cara erupsi magma bermacam-macam, yaitu:

  • Erupsi eksplosif membuat magma keluar dengan cara terlempar karena ledakan gunung yang begitu besar.
  • Erupsi efusif adalah cara keluar magma dengan meleleh dalam bentuk cair.
  • Erupsi campuran yakni materi magma yang keluar bergantian antara bentuk padat dan bentuk cair.

3. Kristalisasi Magma

Di sini lah siklus batuan yang sesungguhnya dimulai. Magma yang telah keluar akan terus bergerak mengalir ke suhu yang lebih rendah dari kamar magma. Dengan begitu magma akan mengalami kristalisasi, sebagiannya mengalami pembekuan dan berubah menjadi batuan beku. Adapun tempat proses pembekuan ini beragam yang menyebabkan jenis batuan pun berbeda, yaitu:

  • Proses pembekuan yang terjadi di bawah bumi akan membentuk batuan beku intrusif.
  • Proses pembekuan yang terjadi di permukaan bumi (setelah erupsi) disebut batuan batu beku ekstrusif.

4. Proses Pelapukan

Batuan yang telah mengalami kristalisasi magma lambat laun akan lapuk. Hal ini disebabkan karena banyak faktor, namun penyebab utamanya adalah cuaca dan sinar matahari. Namun pelapukan juga bisa dikerenakan aktivitas kimia dan fisik, misalnya batuan berinteraksi langsung dengan air, organisme tertentu, dan sebagainya.

Berbicara proses pelapukan, sebenarnya proses ini bisa terjadi saat magma belum keluar dari perut bumi. Batuan beku intrusif juga mengalami pelapukan hanya saja ini terjadi di dalam kerak bumi.

5. Erosi

Proses pelapukan di atas erat kaitannya dengan proses erosi (pengendapan). Batuan yang mengalami pelapukan sisanya akan terbawa oleh air atau angin dan bertumpuk di satu titik tertentu. Semakin lama tumpukan ini akan menggunung dan bersatu sehingga berubah menjadi batuan. Batuan ini dinamakan batuan sedimen.

6. Proses Sedimentasi

Sama halnya seperti pelapukan, proses sedimentasi ada juga yang terjadi dari perut bumi. Sehingga pada saat batuan sedimen keluar bersama magma, ia berubah menjadi batuan metamorf. Ini disebabkan pengaruh tekanan dan suhu yang tinggi pada magma. Saat batuan tersebut keluar, di permukaan bumi kembali mengalami pelapukan dan sedimentasi lagi. Sehingga pada akhirnya akan tercipta batuan sedimen baru.

7. Proses Metamorfosa

Siklus batuan terakhir adalah proses metamorfosa yang masih berhubungan dengan proses kristalisasi hingga sedimentasi. Batuan beku intrusif yang tidak sampai ke permukaan bumi akan terkubur lebih dalam karena tekanan dari atas. Semakin besar tekanan dan suhu, maka akan semakin menekan batu tersebut. Pada akhirnya batuan beku ini akan berubah susunan kimianya sehingga menjadi batuan metamorf (malihan).

Hal tersebut berlaku juga untuk batuan sedimen yang ada di perut bumi. Jika ia tidak dapat bergerak keluar, maka akan tertekan ke dalam terus turun mendekati kamar magma. Akhirnya batuan sedimen tersebut akan berubah juga menjadi batuan metamorf (malihan). Di sini lah proses kembali terulang, yaitu pelapukan. Batuan metamorf sebagian akan meleleh kembali dan berubah menjadi magma.

Baca Juga: pencemaran lingkungan


Jenis Batuan Berdasarkan Proses Terjadinya

Siklus Batuan

Siklus batuan di atas terjadi terus menerus dan berulang. Bahkan meski pun sebuah gunung telah meledak, proses pembetukan magma terus berlangsung. Itu lah sebabnya ada beberapa gunung api yang masih aktif meski pun pernah meledak sebelumnya. Ini dikarenakan kamar-kamar magma di bawahnya masih aktif memproduksi magma. Berdasarkan proses terjadinya yang erat kaitannya dengan magma, berikut adalah jenis-jenis batuan:

1. Batuan Beku

Sedikit sudah disinggung di atas mengenai batuan ini dikarenakan proses pendinginan dan pengerasan magma. Selain dikelompokkan berdasarkan genetiknya (tempat pembekuannya), batuan beku juga dikelompokkan berdasarkan warnanya, yaitu leucocratic, mesocraic, melanocratic, dan hypermelanic. Pengelompokkan lainnya adalah berdasarkan silika. Kandungan silika yang bermacam-macam membagi batuan beku menjadi batuan beku asam, beku menengah, beku basa, serta beku ultrabasa.

Contoh batuan beku intrusi adalah batu granit, gabro, granodiorite, syienit, dan masih banyak lagi. Untuk contoh batuan beku ekstursi adalah batu basal, andesit, duni, dan sebagainya.

2. Batuan Sedimen

Batuan ini disebut juga sedimentary rock yang merupakan hasil dari proses pengendapan. Jika membahas mengenai pengendapan, sebenarnya proses ini tidak harus melalui letusan gunung dan aliran magma. Adanya longsoran tanah pun bisa menciptakan batuan sedimen. Karena prinsip pembuatan batu ini adalah proses endapan.

Batuan yang tergolong sebagai batuan sedimen adalah chemical precipitates-evaporates, volcaniclastics, biochemical-biogenic-organic deposits, dan terrigeneous clastics. Contoh batuan sedimen yang dapat ditemukan di permukaan bumi adalah batu pasir, batu gamping, konglomerat, batu breksi, dan lain-lain.

3. Batuan Metamorf

Terakhir jenis batuan yang berdasarkan proses pembuatannya adalah batuan metamorf (metamorphic rock). Sesuai dengan namanya, batuan ini adalah hasil dari metamorphosis yang mengubah batuan asalnya (beku atau sedimen) menjadi batuan baru. Batuan metamorf yang masih ada di perut bumi akan melebur lagi menjadi magma. Sedangkan yang bermetamorfosis di permukaan bumi mengalami perubahan dari sisi struktur, komposisi mineral, dan teksturnya.

Contoh dari batuan metamorf yang paling terkenal adalah batu marmer dan batu sabak. Jenis lainnya adalah batu genes, sekes, kuarsit, dan masih banyak lagi.

Memahami siklus batuan, proses terjadi, hingga jenis-jenisnya sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Karena setiap batuan memiliki struktur dan sifat yang berbeda, maka fungsinya pun tidak dapat disamakan satu dengan lainnya.

Siklus Batuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like