10 Nama Pahlawan Revolusi Beserta Biodata, Nama dan Daerah Asalnya

pahlawan revolusi

Pahlawan Revolusi – Salah satu sejarah yang tidak dapat dilupakan oleh bangsa Indonesia adalah peristiwa G30S PKI. Peristiwa tersebut memiliki kepanjangan Gerakan 30 September PKI. Adapun PKI sendiri adalah singkatan dari Partai Komunis Indonesia.

Mengingat Indonesia merupakan negara Ketuhanan Yang Maha Esa, jelas saja paham komunis sangat ditentang saat itu. Suasana Indonesia terasa begitu kelam hingga akhirnya menewaskan beberapa sosok yang kini dikenal sebagai pahlawan revolusi.

Peristiwa G30S PKI sempat difilmkan dan biasa diputar setiap tanggal 30 September di stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengenang pahlawan revolusi serta edukasi kepada generasi muda.

Namun sayang, semakin hari film tersebut menuai kontroversi hingga tidak ditayangkan lagi di televisi seperti dulu. Agar tidak melupakan peristiwa penting tersebut, simak artikel ini karena akan membahas sosok-sosok yang berkorban selama tragedi G30S PKI terjadi.

Baca Juga: macam macam norma


Mengenang Sosok Pahlawan Revolusi Indonesia

Pahlawan Revolusi

Hal tragis lainnya dari peristiwa G30S PKI adalah seluruh jasad pahlawan revolusi tersebut tidak dimakamkan secara layak. Memang pada akhirnya seluruh jasad diangkut dan dikebumikan kembali pada 5 Oktober 1965 di Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta. Namun sebelumnya itu mereka semua dimasukkan ke dalam lubang buaya. Sebuah sumur dengan diameter sepanjang 75 cm dengan kedalaman 12 meter. Orang-orang yang dimasukkan ke sana adalah:

1. Jenderal TNI Ahmad Yani

Nama Jenderal Ahmad Yani cukup terkenal di Indonesia. Namanya diabadikan sebagai nama jalan dan bandara di Semarang, yaitu Bandar Udara Internasional Achmad Yani. Ini sesuai dengan pengorbanannya saat G30S PKI terjadi. Kala itu di malam hari Achmad Yani dijemput paksa oleh serombongan orang yang berdalih akan membawanya menghadap presiden. Namun saat Yani meminta waktu untuk mandi dan mengganti pakaian, prajurit yang menjemputnya marah. Seketika itu juga Yani ditembak dan jasadnya diseret ke lubang buaya.

Yani memang terkenal sosok yang menentang paham komunisme. Namun ia berada di pihak yang setuju pembentukkan Angkatan Kelima, yaitu mempersenjatai buruh dan tani. Sayang, sosok yang mengantongi sederet prestasi ini terlanjur dieksekusi dan diperlakukan dengan tragis.  Sejak sepeninggal Yani, seluruh keluarganya pindah dan menjadikan rumah tempat penembakan sebagai museum. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965, dirinya dan korban lainnya disahkan sebagai pahlawan revolusi.

2. Letnan Jenderal Suprapto

Latar belakang mengapa Letnan Jenderal Suprapto ikut dieksekusi cukup kentara karena ia berada di sisi kontra dari DN Aidit, Sang Ketua Partai Komunis Indonesia. Suprapto menentang pembentukan Angkatan Kelima, maka begitu DN Aidit mengetahui ini nama Suprapto langsung masuk daftar orang-orang yang dieksekusi. Malam itu dirinya diculik paksa kemudian dibunuh di dekat lubang buaya.

Selama hidupnya Suprapto sering berpindah tempat saat bertugas. Salah satu perjuangannya adalah meredam pemberontakan komunis di daerah Semarang dan Medan. Sebelumnya ia menduduki posisi strategis, misalnya menjadi Deputi Kepala Staf Angkatan Darat wilayah Sumatera dan Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/Diponegoro di Semarang.

3. Letnan Jenderal MT Haryono

Jenderal MT Haryono adalah seorang yang cerdas. Ia menyelesaikan sejumlah jenjang pendidikan, meski pendidikan kedokteran pada masa Jepang (Ika Dai Gakkko) tidak sempat dituntaskannya. Ia sangat fasih tiga bahasa asing, yaitu Jerman, Belanda, dan Inggris. Maka tak heran kalau dirinya sering dijadikan juru bicara dalam setiap perundingan. Seperti saat Konferensi Meja Bundar di Belanda, MT Haryono berperan sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Pada hari kejadian, dirinya sempat menyelamatkan anak dan istrinya. Ia menyuruh mereka untuk pindah kamar dan tidak menyalakan lampu. Karena curiga, MT Haryono sempat bersembunyi kemudian kabur dari rumah. Namun usaha ini gagal dan justru ketahuan oleh salah satu prajurit. Ia ditembak di tempat hingga mati dan jenazahnya diangkut ke truk yang menunggu di depan rumahnya.

4. Letnan Jenderal Siswondo Parman

Siswondo Parman lebih dikenal dengan sebutan S.Parman. Ia juga salah satu sosok yang menentang pemikiran komunis DN Aidit. Padahal sebagai seorang intelijen negara ia cukup dekat dengan PKI. Namun saat ditawari untuk bergabung, Parman menolak dengan keras. Ini lah yang menyebabkan dirinya masuk ke dalam daftar penculikan. Ironisnya, nama Parman bisa masuk karena usulan dari kakak kandungnya sendiri, yaitu Ir. Sakirman.

Parman tidak dieksekusi di rumahnya, ia dibawa hidup-hidup oleh pasukan Tjakrabirawa. Baru lah saat tiba di lubang buaya dirinya mendapat sejumlah tembakan hingga mati. Kemudian jasadnya dimasukkan ke dalam luang buaya bersama pahlawan revolusi lainnya.

5. Mayor Jenderal Pandjaitan

Nama lengkap dari Mayor Jenderal Pandjaitan adalah Donald Isaac Panjaitan. Jasanya hingga kini dapat kita rasakan karena ia adalah salah satu perintis dibentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI). Bersama pemuda-pemuda Indonesia lainnya, ia membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lambat laut kariernya meningkat, mulai dari menjadi komandan batalyon, kepala staff umum, hingga akhirnya menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Pada malam yang kelam itu, Pandjaitan ditembak hingga mati di rumahnya. Bahkan seluruh pelayan dan ajudannya pun menjadi korban. Tampaknya ia sudah berfirasat akan dieksekusi. Dengan gagah berani, ia mengenakan seragam militer lengkap dan berdiri tegap dihadapan PKI. Saat itu juga peluru menghabisi nyawanya kemudian jasadnya disatukan di dalam lubang buaya.

6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo

Akrab disapa dengan Mayjen Sutoyo, ia dieksekusi karena difitnah turut serta dalam pembentukan Dewan Jenderal. Dewan Jenderal adalah julukan yang dibuat oleh PKI. Mereka menuduh beberapa jenderal akan mengkudeta Soekarno pada 5 Oktober 1965 bertepatan dengan Hari ABRI. Namun itu semua hanya lah alasan Tjakrabirawa untuk mengeksekusi Mayjen Sutoyo.

Pada Jum’at dini hari, tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Tjakrabirawa datang membawa Mayjen Sutoyo dengan dalih perintah menghadap presiden Ir. Soekarno. Pada kenyataannya itu hanya akal-akalan untuk membawa Mayjen Sutoyo ke lubang buaya. Begitu sampai di lubang buaya, dirinya disiksa dulu baru dibunuh dan dimasukkan ke lubang buaya.

7. Kapten Pierre Tendean

Meski usianya masih muda saat dirinya dibunuh, yakni 26 tahun, Kapten Pierre Tendean termasuk sosok yang setia dan pemberani. Sebenarnya sasaran PKI saat itu adalah AH Nasution, namun saat itu kondisi rumah AH Nasution sedang gelap dan ia bahwa dirinya adalah AH Nasution.

Saat AH Nasution lari ke belakang rumah dan kabur, Kapten Pierre Tendean dibawa bersama enam perwira lainnya ke lubang buaya. Ia ditembak mati di sana dan jasadnya dimasukkan ke dalam lubang buaya.

8. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo

Pahlawan revolusi selanjutnya adalah Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo atau Brigadir Katamso. Saat hari para jenderal lainnya dieksekusi di rumah, Brigadir Katamso justru sedang dinas ke Yogyakarta. Di sana lah ia disiksa oleh pasukan PKI dengan kunci mortar motor hingga meninggal.

Jasadnya tidak dibawa ke Jakarta, melainkan dimasukkan ke dalam lubang yang memang sudah disiapkan oleh PKI. Lokasinya di sekitar Kentungan, Sleman, Yogyakarta. Baru lah setelah beberapa hari kemudian jasadnya ditemukan, tepatnya pada 21 Oktober 1965.

9. Kolonel Sugiono

Nama lengkap dari Kolonel Sugiono adalah R Sugiyono Mangunwiyoto, seorang kolonel yang pernah menjadi ajudanan Soeharto. Sama seperti Brigjen Katamso, Kolonel Sugiono pun meninggal karena kepalanya dihantam oleh kunci mortar motor dan batu. Dirinya dimasukkan ke lubang yang sama dengan Brigjen Katamso dan baru ditemukan beberapa hari kemudian.

10. Karel Satsuit Tubun

Orang-orang mengenal sosok ini dengan nama KS Tubun, yakni seorang perwira yang tidak termasuk anggota TNI namun turut gugur dalam peristiwa G30S PKI. Saat kejadian berlangsung, dirinya sedang bertugas sebagai ajudan Johanes Leimena yang juga jadi sasaran pasukan Tjakrabirawa.

Karena posisi rumah Leimana dan Jenderal Nasution berdekatan, KS Tubun bangun begitu mendengar keributan. Begitu ia tau bahwa rumah Jenderal Nasution sedang dikepung, ia pun melancarkan tembakan. Karena kalah jumlah, dirinya tewas akibat serangan balik dari pasukan PKI. KS Tubuh meninggal di tempat namun jasadnya tidak dibawa ke lubang buaya.

Baca Juga: ruang lingkup sejarah


Korban Lain Tragedi G30S PKI

Pahlawan Revolusi

Sebenarnya tragedi G30S PKI menelan korban lainnya dan sayangnya itu adalah seorang anak-anak. Meski tidak termasuk dalam daftar pahlawan revolusi, kematiannya cukup memukul beberapa pihak. Ade Irma Suryani Nasution adalah salah satu korban penembakan dari prajurit Tjakrabirawa.

Ia adalah putri bungsu dari AH Nasution. Keberaniannya menjadi tameng Sang Ayah saat berhadapan dengan Tjakrabirawa membuat tubuhnya harus menelan peluru. Ade Irma tidak meninggal di tempat, namun enam hari setelah dirawat di rumah sakit. Jasadnya dimakamkan di kawasan kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

Itu lah nama-nama pahlawan revolusi yang harus dikenang perjuangan dan keberaniannya. Mengingat kelamnya tragedi komunis di Indonesia, isu ini cukup sensitif untuk diperbincangkan. Namun begitu, bukan berarti kita melupakan sosok-sosok yang berkorban pada masanya.

Pahlawan Revolusi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *