Metamorfosis Capung  – Capung atau dalam Bahasa latin disebut Odonata merupakan salah hewan serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna atau yang biasa disebut dengan hemimetabolisme selama siklus hidupnya.

Capung tergolong kedalam hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna, hal tersebut dikarenakan capung tidak melewati stadium pupa. Sama seperti belalang, metamorfosis capung hanya melalui tiga stadium saja.

Capung dalam sebuah ekosistem memiliki peranan sebagai predator. Secara morforlogi, capung. Capung dilengkapi dengan mata majemuk. Oleh karena itu, capung memiliki kemampuan penglihatan ke segala arah. Mulut capung tergolong kedalam tipe mandibulata.

Nimfa merupakan salah satu fase terlama dari keseluruhan fase metamorfosis. Habitat dari nimfa ini adalah area perairan seperti sungai, sawah, danau atau rawa. Namun, tidak sedikit pula yang hidup di pertengahan hutan tropis yang lembab. Habitat ini ditentukan oleh spesies capung tersebut, ada yang di perairan atau pun di daratan.


Metamorfosis Capung

Metamorfosis Capung

Metamorfosis merupakan suatu proses perkembangan makhluk hidup dengan melakukan perubahan fisik. Jenis metamorfosis terdapat dua macam, yaitu metamorfosis sempurna (Holometabola) dan metamorfosis tidak sempurna (Hemimetabola). Hewan yang metamorfosis sempurna contohnya adalah seperti kupu-kupu, sedangkan hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna adalah capung.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, metamorfosis capung tergolong dalam hemimetabola. Secara pengertian, hemimetabola merupakan sebuah proses metamormofis yang hanya melalui tiga tahap. Tiga tahap tersebut diantaranya adalah telur, naiad atau bisa disebut nimfa, dan imago.

Pada umumnya, hewan yang mengalami metamorfosis hemimetabola tidak mengalami perubahan bentuk. Termasuk metamorfosis capung, setelah telur menetas bentuknya sudah sama dengan capung dewasa. Hal ini berbeda dengan kupu-kupu, yang mengalami beberapa kali perubahan bentuk tubuh.

Baca Juga: Metamorfosis Katak


Fase Metamorfosis Capung

Metamorfosis Capung

Capung sebagai hewan yang mengalami metamorfosis tidak sempurna (Hemimetabola), mengalami beberapa fase atau tahapan. Berikut adalah beberapa tahapan tersebut:

Baca Juga: Metamorfosis Lalat

1. Telur

1. Telur

Fase pertama dalam serangkaian metamorfosis capung dimulai dari telur. Dilihat dari bentuknya, telur capung memiliki bentuk panjang silindris, namun beberapa spesies capung juga terdapat yang berbentuk bulat. Pada sudut telur, terdapat beberapa lubang sangat kecil atau yang disebut micropyle. Tujuan dari lubang tersebut adalah sebagai jalan tempat masuknya sperma sebelum telur tersebut diletakkan.

Setelah proses perkawinan telah selesai dan si betina telah siap dengan telur – telurnya, maka si betina harus mencari tempat yang ramah bagi telurnya. Pada umunya, capung betina akan meletakkan telur – telurnya di area perarian dan menyimpannya di sela – sela tanaman air. Fase telur capung membutuhkan waktu satu hingga tiga minggu hingga larvanya menetas

Capung betina saat akan meletakkan telurnya, selain memilih habitat dalam perarian, si betina juga memastikan bahwa dalam perarian tersebut terdapat microorganisme air sebagai sumber makanan nimfanya nanti saat telah menetas. Jumlah telur capung yang diletakkan oleh induk capung kurang lebih sebanyak 100 butir telur.

Telur capung memiliki bentuk memanjang menyerupai silinder. Pada bagian luarnya diselimuti lendir-lendir yang licin saat dipegang. Fungsi dari lendir ini adalah sebagai pelindung dari telur, agar tidak rusak, sehingga bisa menetas dengan sempurna.

2. Nimfa

2. Nimfa

Fase kedua dari metamorfosis capung adalah nimfa atau juga bisa disebut dengan naiad. Setelah berada kurang lebih satu hingga tiga minggu di dalam telur, akhirnya nimfa pun keluar. Nimfa ini akan hidup di lingkungan sekitar tempat betina meletakkan telurnya.

Nimfa capung bisa bernafas dalam air dan juga bisa hidup di daratan. Selain itu nimfa ini memiliki insang internal yang membuatnya bisa bertahan di dalam air. Makanan dari nimfa ini adalah microorganisme yang ada di area perarian tempat ia diletakkan.

Proses nimfa merupakan periode terlama dari seekor capung. Karena fase nimfa ini memerlukan waktu empat tahun untuk bisa menjadi capung dewasa. Nimfa capung dibekali kemampuan berenang yang gesit, sehingga nimfa capung bisa menjadi predator air yang ganas.

Setelah memiliki ukuran yang cukup besar, nimfa capung mulai memangsa berudu dan anak ikan, atau hewan kecil yang hidup di air lainnya. Selain itu, jika nimfa capung tidak menemukan mangsa atau makanannya, maka ia akan tidak segan untuk memakan sesamanya, sehingga nimfa capung juga disebut sebagai hewan kanibal.

Selama prosesnya menjadi nimfa, ia mengalami beberapa kali perubahan pada kulitnya. Pergantian kulit ini diikuti dengan ukuran tubuhnya yang semakin besar, bahkan bisa berganti hingga 12 kali. Proses pergantian kulit ini disebut dengan eksdisis. Nimfa capung mengalami pertumbuhan dan perkembangan untuk mematangkan organ reproduksinya.

3. Imago

3. Imago

Fase ini merupakan fase dari seluruh rangkaian metamorfosis capung. Pada kehidupan sebelumnya sebagai nimfa yang hanya hidup di lingkungan perairan, setelah menjadi imago, capung akan mulai bergerak untuk menjelajah ke lingkungan yang lain.

Sebelum menjadi imago, nimfa akan melepaskan kulit terakhirnya yang disebut dengan exuvia. Imago memiliki sayap sebanyak dua pasang, toraks dan abdomen, sehingga bentuknya sudah seperti capung dewasa.

Pada fase peralihan dari nimfa menjadi imago, kondisi capung bisa dibilang sangat lemah, sehingga alih-alih menjadi predator, imago justru menjadi mangsa bagi predator lainnya. Secara perlahan, imago akan bergerak perlahan ke daratan. Hal ini tentunya akan membuat imago harus mencari mangsa yang berbeda dan bisa saja lebih sulit.

Imago akan mulai terbang dan mencari mangsa untuk bisa bertahan hidup. Imago juga bisa disebut dengan capung muda yang masih dalam tahap belajar terbang. Kondisi tubuh juga masih lunak dan warna yang masih belum sempurna.

Jika imago berhasil melewati seleksi alam yang cukup ketat, maka ia akan tumbuh menjadi capung dewasa. Masa hidup sebagai capung sejak dari imago hingga capung dewasa hanyalah empat sampai lima bulan.

Setelah menjadi capung dewasa, ia akan mulai mencari keberadaan pasangannya. Capung akan kembali melakukan proses reproduksi untuk bisa melanjutkan ke generasi capung berikutnya. Capung dewasa sangat berjasa dalam menjaga kelestarian alam.

Keberadaan capung juga bisa dijadikan sebagai indikator sebuah ekosistem yang sehat. Bagi petani, capung sangat berjasa karena telah mengurangi berbagai macam hama seperti wereng, belalang, penggerek batang dan masih banyak lagi yang lain.

Capung dewasa akan melakukan proses reproduksi atau perkawinan. Setelah itu capung dewasa hanya tinggal menunggu masa hidupnya usai. Si capung betina akan kembali lingkungan perarian dan mencari tempat yang tepat untuk meletakkan telur – telurnya.

Betina harus mencari ekosistem perarian yang ramah bagi telurnya hingga menetas kembali menjadi nimfa. Seperti yang telah disebutkan di awal, betina harus memastikan bahwa perarian tersebut memiliki persediaan makanan yang cukup untuk para nimfa capung.

Setalah semua proses telah terlewati, capung hanya tinggal menunggu waktu untuk meninggalkan kehidupan di bumi. Harapannya hanya pada telur yang diletakkan betina, jika gagal dalam proses peletakkan atau gagal selama menjadi nimfa, maka satu generasi capung akan berakhir.

Demikian sedikit ulasan tentang metamorfosis capung. Dari bahasan diatas, bisa disimpulkan bahwa capung adalah hewan yang mengalami hemimetabola atau metamorfosis tidak sempurna. Dalam prosesnya mengalami tiga tahapan, yaitu telur, nimfa dan imago.

Metamorfosis Capung 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like