Lagu Daerah Yogyakarta

4 min read

lagu daerah yogyakarta

Lagu Daerah Yogyakarta – Terletak di Jawa Tengah, Kota Yogyakarta memiliki sejarah panjang yang sangat menarik untuk diketahui. Di tengah gempuran modernisasi tak lantas membuat Yogyakarta meninggalkan adat istiadatnya. Justru, keberadaan adat istiadat seolah menjadikan kehadiran kota Yogyakarta sebagai penyeimbang. Ini terlihat dari tidak lunturnya lagu daerah Yogyakarta, tarian, kuliner, sastra, ritual dan juga keseharian masyarakatnya.

Bicara soal Yogyakarta tanpa membicarakan keseniannya, seperti makan tanpa garam. Kota yang pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia ini menyajikan kesenian yang tidak pernah habis. Tak heran jika ia dijuluki The Heart of Java, Jantungnya Jawa. Mengenal budaya Yogyakarta seperti sudah bisa mengenal Jawa secara keseluruhan. Ada makna dan filosofi yang mendalam dalam setiap tembang, lagu daerah, dan tarian.

Mengamini Yogyakarta sebagai Jantungnya Jawa, banyak seniman yang memilih Yogyakarta sebagai base camp. Komunitas seni seolah menemukan oasis di sana. Banyak musisi tradisional, penulis, penggiat seni pertunjukan, komunitas sastra dan juga pemerhati seni berkarya di Yogyakarta. Kota itu seolah memberi inspirasi tiada henti.


Lagu Daerah yang Melegenda

Lagu Daerah Yogyakarta

Bicara Yogyakarta tak luput dari musiknya yang orisinil dan melegenda. Dari jaman dulu ketika kakek nenek masih hidup hingga jaman millennial ini, lagu daerah Yogyakarta tetap diputar dan dikenal orang. Sebut saja lagu fenomenal Suwe Ora Jamu yang dibawakan oleh Waljinah, lagu ini masih terasa akrab di telinga pendengar hingga sekarang.

Faktanya, lirik-lirik lagu daerah Yogyakarta memang sederhana. Namun dibalik kesederhanaan lirik itu ada makna dan filosofi hidup yang sangat dalam. Kebanyakan, lagu daerah Yogyakarta membicarakan tentang jalan hidup manusia dari lahir hingga meninggal. Peristiwa yang kadang dianggap sepele, diejawantahkan kedalam lirik lagu dengan syair sederhana agar mudah diterima masyarakat.

Sebenarnya, lagu daerah Yogyakarta hampir bisa disebut mewakili lagu daerah dari Jawa Tengah kesamaan bahasa dan aransemen. Bahkan di Jawa Timur pun lagu dari Yogyakarta diterima dengan baik  karena kesamaan bahasa walaupun berbeda logat. Biasanya, lagu-lagu ini diajarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

Di masyarakat, saat ini lagu daerah masih sering dijumpai di pementasan-pementasan. Selain itu, pada kehidupan sehari-hari lagu berjenis tembang dolanan masih banyak dinyanyikan anak-anak ketika bermain. Para kakek dan nenek, sering mengajarkan lagu-lagu daerah tadi kepada anak sampai cucunya. Inilah yang membuat lagu daerah Yogyakarta tetap eksis hingga sekarang.

Baca Juga: Lagu Daerah Toraja


Lirik Sederhana Banjir Makna

Lirik Sederhana Banjir Makna

Di atas sudah disinggung bahwa lirik-lirik lagu daerah Yogyakarta itu sederhana namun menyimpan banyak makna. Tentunya baik bagi generasi sekarang untuk tahu apa saja lagu daerah Yogyakarta beserta maknanya. Berikut ini daftar lagu-lagunya :

Baca Juga: Lagu Daerah Kalimantan Tengah

1. Sinom

Amenangi jaman edan
ewuh aja ing pambudi
melu edan ora tahan
jen tan melu anglakoni
boya kaduman melik kaliren
wekasanipun dilalah karsa Allah
begjane kang lali
luwih begja kang engling lan waspada

Sinom dalam bahasa jawa berarti muda atau yang muda atau bisa juga pemuda. Sejalan dengan judul dan artinya, lagu ini menceritakan kehidupan pemuda. Dalam perjalanan masa muda, orang seringkali lalai dan mau enaknya sendiri. Demi menuruti gairah masa muda, lupa nasihat dan petuah orang tua. Lupa ibadah dan berdoa kepada Tuhan.

Oleh karena itu, di lagu ini ada petuah dari orang tua kepada anak-anaknya agar bijak menjalani hidup. Masa muda banyak lupanya, bukan karena usia tapi karena merasa muda lalu tak menghiraukan omongan orang tua. Tercermin hubungan orang tua dan anaknya yang sedang dalam masa puber di lagu ini.

2. Suwe Ora Jamu

Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Temu pisan atine gelo

Suwe ora jamu
Jamu sogo thunteng
Suwe ora ketemu
Temu pisan atine seneng

Suwe ora jamu
amu godhong bunder
Suwe ora ketemu
Temu pisan tambah pinter

Lagu ini bisa dibilang fenomenal. Suara khas Waldjinah selalu terngiang setiap kali membicarakan lagu ini. Lirik lagu ini menceritakan tentang pertemanan dan persaudaraan. Orang yang sudah lama tidak bertemu teman atau saudara pasti ada rasa rindu. Namun pertemuan kembali dengan teman atau saudara tidak selalu menyenangkan.

Boleh dibilang judul Suwe Ora Jamu dimaknai lama tidak menjamu. Bukan menjamu minum jamu tapi menjamu dalam arti menyambut. Ada saudara atau teman yang dirindukan, ketika bertemu lagi terasa senang karena mereka telah sukses. Namun, tidak selalu cerita tentang kesuksesan itu menyenangkan. Jika saudara atau teman yang merindukan ini belum sesukses teman yang dirindukan, ada rasa iri dan cemburu.

3. Caping Gunung

Dhek jaman berjuang
Njur kelingan anak lanang
Biyen tak openi
Ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang
Keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji
Ning saiki apa lali

Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung

Sukur bisa nyawang
Gunung desa dadi reja
Dene ora ilang
Gone padha lara lapa

Caping Gunung menceritakan pergumulan anak dengan orang tuanya. Melalui liriknya yang sederhana dituliskan kalau orang tua sering merasa “kehilangan” anak. Ketika anak masih kecil, orang tua rela berkorban apa saja demi kepentingan anak. Ibarat orang tua rela naik ke puncak gunung dalam keadaan hujan badai demi kebutuhan anak.

Namun, ketika anak dewasa semua itu belum tentu berbalas. Anak akan pergi meninggalkan orang tua untuk sekolah, bekerja lalu menikah. Orang tua terlupakan karena urusan anak yang lain. Apalagi jika anak sudah sukses dan berkeluarga, rata-rata menomorduakan orang tua. Lihat, kan, betapa lirik sederhana memiliki makna sedalam ini.

4. Kidang Talun

Kidang … Talun
Mangan kacang talun
Mil kethemil mil kethemil
Si kidang mangan lembayung

Tikus … pithi
Due anak siji
Cit cit cuit
Cit cit cuit
Maju perang wani mati

Kidang … Talun
Mangan kacang talun
Mil kethemil mil kethemil
Si kidang mangan lembayung

Gajah … belang
Soko tanah mlembang
Nuk legunuk nuk legunuk
Gedhene meh podho gunung

Lagu ini termasuk dalam jenis tembang dolanan atau lagu-lagu permainan. Melalui liriknya, pendengar diajak mengenal dunia binatang seperti tikus, kijang, dan juga gajah. Penggambaran hewan-hewan melalui lagu ini juga menarik. Misalnya gajah yang digambarkan memiliki warna seperti tanah dan sebesar gunung.

Orang tua bisa mengajarkan anak-anak mereka tentang dunia hewan melalui lagu ini. Selain itu, bisa juga diajarkan untuk memelihara dan mencintai binatang. Melalui lagu daerah ini, anak-anak bisa mengenal bentuk binatang, cara mereka makan, juga warna tubuh meraka.

5. Pitik Tukung

Aku duwe pithik cilik, wulune brintik
Cucuk kuning jengger abang, tarung mesti menang
Sopo wani karo aku, musuh pithikku

Aku duwe tukung, buntute buntung
Saben dina mangan jagung, mesti wani tarung
Sopo wani karo aku musuh pithikku

Ini lagu yang lucu dan menggelikan. Diceritakan ada sebuah desa yang indah dan asri, ada anak yang memelihara ayam. Ayam-ayam itu bertelur namun anak-anak ayamnya tidak berbulu alias trondol. Biarpun begitu, si ayam trondol ini lucu dan menggemaskan. Selain itu, anak itu juga mempunyai ayam yang berbulu brintik, bercucuk kuning dan berjengger merah.

Si ayam brintik ini tadi dikisahkan selalu menang ketika bertarung. Dengan tempo yang ceria membuat lagu ini digemari anak-anak. Biarpun begitu, makna lagu ini sangat dalam. Maknanya adalah walaupun setiap orang mempunyai kekurangan, janganlah minder. Gunakan kekurangan itu sebagai kekuatan untuk menang.

6. Jangkrik Genggong

Kendal kaline wungu
ajar kenal karo aku
lelene mati digepuk
gepuk nganggo walesane

suwe ora pethuk
ati sida remuk
kepethuk mung suwarane
e… ya… e… ya… e…
e… ya… e… ya… e… ya… e… ya… e…

Jangkrik genggong, jangkrik genggong
luwih becik omong kosong
Semarang kaline banjir
ja sumelang ra dipikir

Jangkrik upa saba ning tangga
malumpat ning tengah jogan
wis watake priya, jare ngaku setya
tekan ndalan selewengan
e… ya… e… ya… e…
e… ya… e… ya… e… ya… e… ya… e…

Lagi-lagi dari si Ratu Keroncong Waldjinah. Ini lagu kasmaran. Liriknya dan temponya yang ceria penuh sindiran pada hubungan dua orang. Dikisahkan ada dua orang yang kasmaran tapi yang satu jarang berkirim kabar. Walaupun melalui suara saja, sebenarnya itu sudah cukup. Dari jarang berkirim kabar itu muncul ketidaksetiaan.

Melalui suara khasnya Waldjinah bertutur bahwa pasangan yang dipisahkan jarak rentan berpisah. Lama tidak bertukar kabar ternyata sudah ada gandengan baru. Menariknya, ini sebenarnya lagu galau namun dikemas dengan irama riang. Ini membuat lagu daerah Yogyakarta yang satu ini cocok dijadikan sindiran bagi orang yang suka selingkuh.

Itulah sederet lagu daerah Yogyakarta yang melegenda hingga sekarang. Di tengah menjamurnya musisi-musisi modern, banyak musisi lokal yang berjuang mempertahankan lagu daerah Yogyakarta. Ada baiknya masyarakat tetap melestarikan lagu-lagu daerah agar keaslian suatu daerah tetap terjaga. Peran setiap elemen masyarakat sangat penting dalam pelestarian lagu-lagu daerah ini. Yuk, dengar dan kenali lagu daerah Yogyakarta ini.

Lagu Daerah Yogyakarta

Lagu Daerah Palembang

Vera Apriani
5 min read

Lagu Daerah Maluku

Vera Apriani
5 min read

Lagu Daerah Lampung

Vera Apriani
7 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *